[email protected]

Senin - Jumat : 07:00 - 14:00
021 7200456
0816 262579

Kesalahan Yang Sering Dilakukan Orangtua Saat Mendisiplinkan Anak

Pernahkan Anda berkata “Ayo cepat pakaibaju, kalau nggak kita ga jadi keluar!”, lalu ditimpali anak yang berkata “ya udah kita  di rumah aja.”?

Semakin besar usia anak, semakin Anda akan  merasa bahwa teguran Anda tidak mempan saat mendisiplinkannya. Namun bagaimana pun, Andalah orangtua anak Anda. Pahamilah kesalahan-kesalahan berikut agar mampu menghindari ‘ranjau’ pendisiplinan yang Anda tanam sendiri!

  1. Melontarkan Kebohongan

“ kalau kamu nggak tidur sekarang, nanti nenek sihir dating lho”!

Sering kali Anda tergoda untuk melontarkan kebohongan-kebohongan kecil, untuk membuat anak melakukan tugasnya. Tetapi kebohongan  Anda bisa kembli menyerang Anda. Anak bisa saja ‘terpaksa’ tidur hanya karena takut akan nenek sihir, bukan karena ia merasa bahwa tidur adalah  kewajibannya. Memberikan rasa takut, apalagi yang tidak akan  benar-benar terjadi,  hanya akan membuat anak semakin menciut dan  terus menumbuhkan rasa cemas dalam hatinya. Tetaplah berkata jujur.

Gunakan kata-kata  yang memperlihatkan empati. “bunda tahu kamu nggak pingin tidur. Kadang bunda juga pingin main terus, tetapi kalau kamu tidur sekarang, besok bisa bangun lebih pagi, dan kita bisa ke taman jalan pagi”

  1. Mengancam dengan kata-kata kosong

“ kalau kamu lempar lagi pasirnya, kamu  nggak main lagi  di sini”.

Memang tidak enak rasanya membuat Anda menjadi ‘ibu jahat’. Tetapi jika anak tidak berhenti melakukan perilaku yang menyimpang, Anda harus menentukan kosenkuensi dengan tegas. Jika Anda hanya terus mengulangi perkataan yang sama tanpa melakukannya, anak tidak akan menghentikan perilaku buruknya. Ingatlah bahwa anak suka menguji kesabaran Anda.

Anda bisa memberikan peringatan terlebih dahulu. Jika anak melakukannya lagi, bawa anak menyingkir sebentar, dan berikan anak waktu sebentar untuk memikirkan perbuatannya (time-out). Jika setelah itu ia masih melakukannya, bawalah ia pergi. Lain kali, beritahukan anak dengan lembut sebelum memulai bermain, “Ingat kan, tempo hari akhirnya kita harus pulang duluan karena kamu terus melempar pasir? Bunda harap kita nggak perlu pulang pagian hari ini, ya.”

  1. Terlalu sering ‘menyuap’ anak

“kalau hari ini anteng di rumah nenek, nanti Ayah belikan mainan kesukaanmu.”

Sering kali kita harus ‘menyuap’ anak, supaya pekerjaan kita lebih mulus, entah itu saat berbelanja, saat pergi ke tempat ibadah, atau  bahkan saat jam makan. Ketimbang berkata “kalau kamu makan brokolinya hari ini, nanti Bunda kasih coklat.”, cobalah berkata “Bunda bangga padamu karena sudah mau mencoba makan brokoli hari ini. “Mungkin Anda merasa sebagai orangtua yang buruk hari ini. Tetapi sebetulnya, Anda sedang membantu anak untuk menumbuhkan kesadaran dirinya.

  1. Melanggar aturan Anda sendiri

Kita semua sudah tahu bahwa anak menyerap semua kata-kata dan tindakan kita seperti spons. Misalnya, Anda melarang anak untuk melempar  mainan, dan menghukumnya setiap ia melempar mainan. Tapi suatu hari, Anda  sedang tergesa-gesa membereskan ruangan dan tanpa sadar melempar sebuah mainan dari ruang tamu ke dalam kamar. Anak yang melihat Anda akan kebingungan dengan tingkah laku Anda, dan berpikir ‘Bunda bilang ga boleh lempar barang, tapi Bunda sendiri kok barusan lempar mainan?’ pada akhirnya, aturan yang telah Anda buat tersebut, tidak akan mempan.

Berhati-hatilah terhadap ucapan dan tindakan Anda, dan sebisa mungkin taatilah aturan yang telah Anda buat sendiri.

  1. Kehilangan kendali

Butuh kesabaran saat mengasuh anak yang aktif. Tetapi naik pitam, meluapkan amarah Anda pada anak, apalagi main tangan, tidak akan menghasilkan apapun. Yang ada justru, anak  akan ketakutan terhadap Anda, dan yang lebih buruk lagi, ia akan bersikap serupa dengan Anda, saat  bergaul bersama teman-temannya.

Time-out bikan saja untuk anak-anak. Anda juga bisa menyingkir sebentar. Tarik napas dalam, berhitunglah sampai 10, dan Anda akan bisa menjadi lebih tenang menghadapi anak Anda. Ubahlah suasana untuk menenangkan diri Anda, lalu ingatlah kembali peraturan yang sudah Anda buat, dan secara konsisten terapkan kosekuensinya pada anak.

  1. Menunggu terlalu lama

“kalau kamu nggak mau merapikan mainanmu, besok kita nggak jadi ke rumah Dafa!”

Faktanya, anak-anak tidak akan ingat kesalahan mereka, bahkan satu jam setelah mereka melakukannya. jadi sebetulnya percuma jika Anda menentukan konsekuensi yang jaraknya waktu terlalu jauh dari saat Anda menegurnya. Tidak akan mempan bila Anda berkata, “Habiskan sarapanmu, kalau tidak nanti malam Ayah gam au membaca buku untuk kamu sebelum tidur.”

Karena itu, perlihatkan konsekuensi tindakan anak, langsung pada saat itu juga, sesegera mungkin setelah anak melakukan perilaku burukny. Jika anak memukul teman menggunakan truk mainannya, tidak ada gunanya membatalkan sesi membaca buku sebelum tidur. Segera sita truk mainannya.

  1. Berbicara terlalu panjang

Banyak orangtua yang menegur anak dengan kata-kata yang panjang dan berbelit-belit, serta diulang-ulang. Bagi anak, yang terdengar hanyalah celotehan saja.

Anak  bukanlah orang dewasa. Penjelasan yang panjang lebar hanya akan masuk dari kuping kanan keluar dari kuping kiri. Anda cukup berkata “ tidak ada kue sebelum makam. “tidak perlu menjelasakan dengan panjang lebar bahwa kue yang manis dapat merusak selera  makan kita. Selain itu, pastikan saat menegur anak, gunakan kata-katayang dapat dimengerti oleh anak usianya.

Sumber :  Chai’s Play

Komentar

To Top ↑